Amerika Pertanyakan Hukum Rajam di Aceh ke PBNU


amerikanuSelasa, 10 November 2009 18:34
Jakarta, NU Online

Pemerintah Amerika Serikat, melalui wakil duta besarnya di Indonesia, Ted Osius dalam kunjungannya ke gedung PBNU, Selasa (10/11) mempertanyakan kepada KH Hasyim Muzadi qanun jinayat di Aceh yang memasukkan hukuman rajam bagi pelaku zina yang telah menikah.

Menjawab pertanyaan ini, KH Hasyim Muzadi menjelaskan, ajaran syariah Islam diperkenalkan sebagai kewajiban individu sedangkan sebagai warga negara, wajib mematuhi undang-undang yang ada.

“Syariah untuk individu, bukan untuk negara, NU menilai yang penting adalah substansinya, bukan teksnya,” kata Hasyim. Dalam kesempatan berbeda, Hasyim pernah menjelaskan hal yang sama dengan memberi contoh tak perlu UU Anti Korupsi Islam karena sejatinya, korupsi sendiri sudah bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Ted, yang lulusan American University in Cairo mengakui bahwa NU merupakan organisasi Islam terbesar di dunia yang memiliki nilai moderasi, menjunjung tinggi toleransi dan pluralisme. “Inilah yang ingin kami pelajari dari NU,” katanya.

Ted juga meminta agar PBNU tetap mempertahankan citra Indonesia sebagai negara Islam moderat karena belakangan ini ada tindakan yang mengarah pada fundamentalisme Islam, seperti pelarangan pemakaian celana jeans bagi perempuan di Aceh.

Kesalahfahaman Islam

Ia menjelaskan, Islam merupakan agama yang memiliki perkembangan yang sangat cepat di Amerika. Sayangnya, keberadaan Islam masih sering disalahfahami, termasuk oleh media massa. Tindakan buruk yang dilakukan oleh seorang muslim, oleh media diasosiasikan dengan umat Islam sementara jika dilakukan oleh pemeluk agama lain, hanya dikaitkan dengan persoalan individu saja.

Pada pertemuan ini, Ted juga menyatakan keinginannya untuk bisa mengunjungi pesantren NU. “Kami mempersilahkan untuk dikunjungi kapan saja,” kata Hasyim.

Dijelaskan oleh Hasyim, wujud moderasi NU bisa dilihat, tak satupun pada lebih dari 10 ribu pesantren yang dimiliki oleh NU terlibat dalam tindakan terorisme. “Terorisme bukan karakter asli Indonesia, tetapi datang dari luar,” tandasnya.

Ir Iqbal Sullam, wakil sekjen PBNU yang ikut dalam pertemuan tersebut menjelaskan, mengenai hukum cambuk, yang juga diprotes banyak kalangan. Hal ini bukan hanya dilaksanakan di Aceh, tetapi juga di Singapura, yang bisa dikategorikan sebagai salah satu negera maju. (mkf)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s