Saatnya NU kembali ke Pesantren


Jakarta, NUBatik Online
Majelis Alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (Majelis Alumni IPNU) pada awal Januari 2010 akan menyelenggerakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Jakarta. Salah satu isu sentral yang akan dibahas dalam Rakernas nanti adalah inventarisasi masalah strategis bagi NU yang hendak melakukan Muktamar pada Maret 2010. Majelis Alumni IPNU meminta agar dalam kepemimpinan NU hasil Muktamar 2010 mendatang, harsulah membawa NU kembali khittahnya, yaitu ke Pesantren. Ini ditegaskan Sekjen Presidium Pusat Majelis Alumni IPNU, Asrorun Ni’am Sholeh di Jakarta, Jumat (4/12).

”Majelis Alumni IPNU sebagai bagian integral komunitas NU memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga konsistensi NU untuk berkhidmah bagi kebaikan bangsa dan negara. Untuk itu, melalui Rakernasnya, Majelis Alumni mendorong NU untuk memperhatikan pemangku kepentingan utama NU, yakni pesantren dan santrinya,” papar Ni’am.

Dikatakan Ni’am, dalam rangka menyongsong penyelenggaraan Muktamar NU mendatang Majelis Alumni IPNU juga berharap bahwa sebagai wadah permusyawaratan tertinggi organisasi, Muktamar harus membincangkan secara serius masalah strategis kebangsaan dan keumatan. ”Isu utama yang perlu direspons adalah kontinuitas kebijakan untuk menjaga konsistensi dan arah perjuangan NU, perhatian kaderisasi dengan memberikan perhatian lebih pada pesantren sebagai ”pemegang saham” terbesar NU,” kata Ni’am. Juga revitalisasi nilai-nilai pesantren ke dalam perilaku oraganisasi dan juga dalam kehidupan bebangsa serta mendorong transformasi masyarakat pesantren dan membuka ruang-ruang mobilitas vertikal kaum santri di ranah publik.

Majelis Ulama NU juga berharap transisi kepemimpinan NU pada saat muktamar nanti harus menjamin kontinuitas program dan kebijakan dengan periode sebelumnya dan komitmen untuk mengoptimalkan arah khidmah organisasi dengan “Gerakan Kembali ke Pesantren”, yang merupakan kekuatan inti dari keberadaan NU. ”Pesantren kuat, maka NU akan eksis. Seluruh kader NU yang hendak berkhidmah menjadi Ketua Umum harus memiliki komitmen pemihakan terhadap pesantren dan nilai-nilai khasnya,” paparnya.

”Adanya stigmatisasi pesantren sebagai sarang radikalisme dan terorisme akan dengan mudah ditepis dengan benteng ideology NU yang menekankan moderasi dalam beragama (tawassuth) Adanya penyusupan ideology radikal maupun liberal di dalam pesantren bisa terjadi jika NU lengah melakukan fokus pengabdiannya di pesantren,” tambah Ni’am.

Ditegaskannya, bahwa pesantren telah mewariskan semangat dan prinsip hidup egaliter dan kesahajaan. Sementara dari sisi pola hidup, pesantren mengajarkan semangat kesederhanaan dan kesahajaan. Juga dari sisi pergaulan, pesantren mengajarkan semangat kesetaraan dan egalitarianisme.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Majelis Ulama IPNU, Hilmi Muhammadiyah menegaskan bahwa kepemimpinan KH Sahal Mahfudz dan KH. Hasyim Muzadi dalam sepuluh tahun terakhir ini termasuk sukses dan untuk itu patut diapresiasi. ”Setelah Pak Hasyim secara jelas menyatakan tidak bersedia menjadi Ketua Umum, maka untuk menjaga keberlanjutan kepemimpinan, dibutuhkan figur yang mampu menjamin kontinuitas program dan memiliki visi kepesantrenan,” ucapnya.

Lebih lanjut Hilmi menjelaskan bahwa “Gerakan Kembali ke Pesantren” adalah suatu keharusan dalam agenda besar pembangunan NU ke depan. ”Sejarah berdirinya NU bermula dari pesantren, dimaksudkan menjadi gerakan sosial keagamaan yang memberi perhatian terhadap masyarakat kecil dan kemandirian pesantren, Khittah ini perlu kita rawat kembali dan kita revitalisasi,” tambahnya. (rep/bim)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s