Jangan Sok Suci


Nabi Tidak Melakukan Semua Perkara Mubah

Apabila ada orang yang mengharamkan sesuatu dengan berdalih bahwa hal itu tidak pemah dilakukan Rasulullah SAW, maka sebenamya dia mendakwa sesuatu yang tidak ada dasar hukumnya. Oleh karena itu, dakwaannya tidak dapat diterima.
Demikian Abdullah ibn ash-Shiddiq al-Ghumari dalam “Itqanush Shunnah fi Tahqiqi Ma’nal-Bid’ah”. Lebih lanjut beliau mengatakan: ”Sangat bisa dipahami bahwa Nabi Muhammad SAW tidak melakukan semua perbuatan mubah, dan bahkan perbuatan sunnah, karena kesibukannya dalam mengurus tugas-tugas besar yang telah memakan sebagian besar waktunya.
Tugas berat Nabi antara lain menyampaikan dakwah, melawan dan mendebat kaum musyrikin serta para ahli kitab, berjihad untuk menjaga cikal bakal Islam, mengadakan berbagai perdamaian, menjaga keamanan negeri, menegakkan hukum Allah, membebaskan para tawanan perang dari kaum muslimin, mengirimkan delegasi untuk menarik zakat dan mengajarkan ajaran Islam ke berbagai daerah dan lain sebagainya yang dibutuhkan saat itu untuk mendirikan sebuah negara Islam.
Oleh karena itu, Rasulullah hanya menerangkan hal-hal pokok saja dan sengaja meninggalkan sebagian perkara sunah lantaran takut memberatkan dan menyulitkan umatnya (ketika ingin mengikuti semua yang pernah dilakukan Rasulullah) jika beliau kerjakan.
Oleh karena itu, Rasulullah SAW menganggap cukup dengan menyampaikan nash-nash Al-Qur’an yang bersifat umum dan mencakup semua jenis perbuatan yang ada di dalamnya sejak Islam lahir hingga hari kiamat. Misalnya ayat-ayat berikut:

وَمَا تَفْعَلُواْ مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللّهُ

“Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.” (Al-Baqarah [2]: 197)

مَن جَاء بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا

“Siapa yang melakukan amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat dari amal itu.” (QS. Al-An’am [6]: 160)

وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan berbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS. Al-Hajj [22]: 77)

وَمَن يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَّزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْناً

“Dan barang siapa yang mengerjakan kebaikan, maka akan Kami tambahkan baginya kebaikan atas kebaikan itu.” (QS. Asy-Syura [42]: 23)

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْراً يَرَهُ

“Siapa yang mengerjakan kebaikan walau seberat biji sawi, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Az-Zalzalah [99]: 7)

Banyak juga hadits-hadits senada. Maka siapa yang menganggap perbuatan baik sebagai perbuatan bid’ah tercela, sebenarnya dia telah keliru dan secara tidak langsung bersikap sok berani di hadapan Allah dan Rasulnya dengan mencela apa yang telah dipuji.

Dr. Oemar Abdallah Kemel
Ulama Mesir kelahiran Makkah al-Mukarromah
Dari karyanya “Kalimatun Hadi’ah fil Bid’ah” yang diterjemahkan oleh PP Lakpesdam NU dengan tajuk “Kenapa Takut Bid’ah?”

Inilah dalil-dalil yang bisa anda tunjukkan terhadap orang-orang usil yang setiap anda mengerjakan amal baik yang tidak dicontohkan Rasulullah tapi tidak bertentangan dengan syari’at Islam malah menuduh anda sebagai pelaku perbuatan bid’ah yang sesat. Atau terkadang dengan sopan dan halusnya mereka bertanya, “mana dalilnya yaa akhi?”. Dalil-dalil ini adalah ayat-ayat Qur’an yang apabila diingkari akan membuat pelakunya jatuh kedalam kekafiran karena telah mengingkari ayat Al Qur’an.

Kita hanya bisa berhusnudzon bahwa niatan mereka bertanya dalil adalah semata-mata untuk menjaga kemurnian ajaran Islam. Suatu niat yang tulus yang patut kita hargai. Sebagaimana mereka pun harus menghargai dan berhusnudzon bahwa apa yang kita lakukan bukanlah dalam upaya menambah-nambah perkara baru dalam agama, akan tetapi dalam upaya kita memasyarakatkan keIslaman di bumi pertiwi kita tercinta Indonesia. Suatu amalan yang sesungguhnya tidak layak dituduh sebagai amalan tanpa dalil.

Agar kiranya kita bisa menunjukkan kepada non muslim dimanapun berada, bahwa Islam Indonesia adalah Islam yang berbudaya Ilmu Pengetahuan dalam setiap langkah kehidupannya, dan tetap menjunjung tinggi persatuan dalam perbedaannya. Semoga dunia bisa berkaca dari bangsa ini. Islam Rohmatan lil ‘Aalamien ternyata ada di negeri kita tercinta ini.
Wallahu a’lam bis showaab.

Zainal Arifin anggota KTB2
anda ingin bergabung di Kenapa Takut Bid’ah2 ini
silahkan klik disini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s