Kebangkitan di Tengah Pelenyapan Bangsa


Kalangan pimpinan pelajar dan pemuda berbaris memenuhi jalan Tamrin-Sudirman di Jakarta pusat memperingati dan menyerukan kebangkitan nasional dengan gegap gempita. Berbagai seminar digelar dan tulisan disebar di berbagai media masa. Tidak sedikit kalangan elite partai yang menumpang tenar di panggung peringatan kebangkitan ini dengan berbagai iklan komersial.

Berbagai teriakan, seruan yang penuh harapan itu penuh kejanggalan dan bahkan sia-sia. Bagaimana mungkin orang yang dengan gigih menjerumuskan bangsa ini ke dalam kehancuran menyerukan kebangkitan. Bagaimana mungkin para pelajar, mahasiswa dan pemuda yang mengharap kebangkitan sementara jiwa mereka telah diterilisasi melalui sekolahan sehingga tidak punya lagi akar nasionalisme. Selama ini sekolah belum mengubah orientasinya untuk membangun obyektivitas dengan melepaskan ideologi nasional.

Selama masa orde baru pendidikan nasional dirumuskan oleh para konsultan dari negara-negara kapitalis-imperialis atas nama modernisasi. Seluruh bahasa ilmu pengetahuan dan peristilahan serta kurikulum yang berwatak nasionalistik telah diganti dengan pendidikan yang berorientasi kerja. Pendidikan lebih mempersiapkan tenaga buruh ketimbang kader pemimpin bangsa. Karena bangsa ini hendak diturunkan dari seorang pemimpin menjadi seorang kuli.

Pelajar dan kaum muda tidak lagi diperkenalkan pada masa lalunya, sehingga tidak bisa menemukan identitasnya sendiri, akhirnya mereka membebek terhadap modernitas yang datang dari luar. Karena itu saat ini mereka memandang masa lalunya sendiri sebagai momok. Dianggap sebagai keterbelakangan, yang dalam bahasa pop mereka disebut tidak jaman atau disebut dengan jadul (jaman dulu) yang berkonotasi tidak memiliki manfaat dan daya guna bagi kehidupan apalagi kemajuan saat ini.

Pemerintah dan pendidikan telah meracuni bangsa ini dengan cita-cita global dan keharusan mampu berkompetisi di tengahnya. Inilah orientasi pendidikan nasional kita saat ini. Mereka tidak dididik menjadi pemimpin yang berkarakter, tetapi dilatih untuk menjadi buruh yang bisa bersaing dengan buruh di negara lain, karena itu mereka diajari berbagai kemapuan teknik yang diciptakan mereka dan dibutuhkan mereka. Maka seluruh warisan bangsa sendiri ditinggalkan yang dianggap tidak jaman.

Seperti itulah perilaku orang yang meneriakakan kebangkitan yang berbondong memenuhi jalan raya Ibu kota Jakarta, tetapi sebenarnya mereka tidak sadar bahwa yang dialakukan sangat berbeda dengan yang dicita-citakan.  Para pelajar tidak memiliki kesadaran nasional, karena itu tidak memiliki militansi dalam berbangsa. Dan mereka itulah yang akan tumbuh menjadi elite politik dan bisnis, dan mereka itu yang nanti akan menjual Negara ini beserta asetnya pada bangsa lain. Mereka itulah yang kana lebih menjerumuskan bangsa ini kedalam kesengsaraan sehingga tenggelam ditelan kapitalisme global yang selama ini mereka gandrungi.

Muncul pula di kalangan mereka kelompok anti utang dan fron pembebasan nasional. Tetapi kalau dilihat lembaga pendukung organisiasi tersebut adalah lembaga-lembaga yang selam ini merupakan aparat kolonialisme, aparat kapitalisme. Tidak mungkin mereka menjegal agenda dasar yang memreka perjuangkan untuk memperluas jaringan kapitalisme melalui demokrasi dan hak asasi. Demokrasi telah digunakan sebagai virus untuk merenggangkan hubungan kelompok dari tingkat keluarga, kelompok hingga bangsa  sehingga menjadi individu yang murni.

Coba amatilah dengan seksama bahawa di antara sekian banyak pengingat dan penyeru kebangkitan nasional tidak pernah menyentuh persoalan dasar yang menjadi prasyarat bagi kebangkitan sebuah bangsa. Pertama tidak pernah berupaya mengenali sejarah bangsanya sendiri, agar mereka bisa melanjutkan kemajauan dan prestasi yang pernah dicapai, kedua mereka tidak pernah mununtut untuk menasionalisasi system politik ketatanegaraan, ketiga, mereka juga tidak pernah menuntut dilakukan nasionalisasi system perekonomian, keempat, mereka juga tidak pernah mendorong nasionalisasi kebudayaan.

Bila hal-hal dasar yang menjadi sendi kebangsaaan itu tidak ditata, tidak dipersiapkan, maka kebangkitan bangsa yang diharapkan itu hanya mimpi-mimpi. Bahkan kebanyakan mereka itu tidak hanya tidak sadar terhadap perlunya melakukana anasionalisasi, tetapi mereka takut dan anti nasionalisasi, karena mereka telah berkesadaran kolialis-kapitalis, individualis. Mereka punya prinsip liberal, bahwa pemerintahan yang baik adalah pemerintah yang sedikit berkuasa. Yakni pemerintah yang tidak peduli pada Negara dan pada bangsa dan rakyatnya.

Sebaliknya apa yang dilakukan oleh para penggerak kebangsaan dahulu adalah dengan menuntut diakui sebagai bangsa yang merdeka dan bermartabat. Cita-cita itu ditempuh dengan menggali dan mempelajari masa lalu bangsa ini sendiri. Dari situ dirumuskan berbagai sistem politik, sistem perekonomian dan system kebudayaan. Memilih system pendidikan, menyantukan bahasa yang hendak digunakana sebagai bahasa nasional,  memilih pakaian. Dengan perjuangannya itu maka mereka disebut sebagai pendiri bangsa.

Mereka membangun bangsa ini tidak hanya dengan semangat, tetapi juga dengan ketekunan, satu persatu memilih, menggali dan emenuntukan apa sendi yang harus dibangun. Dan lebih dari itu mereka memiliki keberanian, termasuk keberanian mengambil risiko, dipenjara atau dibuang oleh penjajah Portugis, Belanda, Inggris, Perancis atau Jepang. Tetapi mereka tidak peduli dengan semboyan bangkit atau mati. Mereka memilih bangkit, tidak takut mati. Akhirnya bangsa ini bangkit. ”Bangkit, Melawan lalu Merdeka.” Langkah mereka ini yang patut diteladani. (Abdul Mun’im DZ)

sumber : http://www.nu.or.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s