Menaruh Harapan ke Kiai Sahal dan Kang Said


Rabu, 31 Maret 2010
Jakarta, NUBatik Online
KH. Said Agil Siradj, DR. KH. Sahal MahfudzWarga NU dan bangsa Indonesia bersyukur bahwa muktamar selesai dengan aman dan damai. Telah terpilih ulama terbaik yang kita miliki sebagai rais am dan seorang santri intelektual terbaik yang juga kita miliki sebagai ketua umum tanfdziah. Dua nama itu adalah KH Sahal Mahfudh sebagai Rais Am Syuriyah PBNU dan Dr KH Said Aqil Siradj alias Kang Said sebagai Ketua Umum PBNU.

Dua tokoh ini tidak kita sangsikan ilmu dan pengalamannya memimpin NU yang akan membawanya ke depan. Keduanya telah malang-melintang lama di NU. Kiai Sahal adalah ulama yang telah tiga kali menjabat dan terpilih sebagai rais am. Sebelumnya, ia juga menjabat sebagai wakil rais am. Kang Said juga telah lama menjadi pengurus PBNU, setelah menjadi salah seorang rais dan kemudian menjadi salah seorang ketua PBNU.

Dua oang ini kita yakini akan bisa bekerjasama dengan baik. Kang Said akan selalu menghormati ulama yang lebih tua. Apalagi, bagi Kang Said, Kiai Sahal adalah gurunya. Dua tokoh ini adalah juga hasil temuan tangan emas KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Karena itu, Kang Said tak mungkin melangkahi Kiai Sahal, karena tradisi usia dan hubungan santri-kiai dalam NU. Keduanya juga sosok berdarah biru. Kiai Sahal masih keturunan KH Mutamakkin atau Mbah Mutamakkin Serat Cebolek yang terbilang cucu Mbah Sambu Lasem alias Sayyid Abdurraman. Kang Said adalah juga keturunan Sunan Gunung Jati Cirebon.Memang, keturunan adalah bagian kecil suksesnya kepemimpinan. Namun, kesuksesan yang besar adalah kerja keras dan dukungan mereka yang dipimpin atau umat. Tanpa dukungan umat, kedua tokoh itu akan sia-sia. Gabungan keturunan, kerja keras, dukungan umat dengan usulan-usulan dan ide-ide bagus pendukungnya, akan membuahkan hasil yang memuaskan.

Tantangan Kiai Sahal dan Kang Said ke depan adalah kinerja dan karya. Kepemimpinan ini harus lebih baik dari sebelumnya, duet Sahal-Hasyim. Sahal-Said memang harus melanjutkan keberhasilan yang telah ditorehkan sebelumnya. Beberapa program yang belum tuntas sebelumnya harus diselesaikan kini.

Namun, yang lebih penting dari itu, kepemimpinan ini harus bisa menjelaskan dan menjernihkan isu-isu miring yang pernah beredar saat muktamar. Sebab, isu miring itu akan merugikan NU dan nama baik ulama. Kiai Sahal dan Kang Said harus juga bisa membuktikan bahwa kepengurusan NU priode ini sama sekali tidak terkooptasi kekuatan manapun.

Juga, bagaimana kepemimpinan ini bisa menempatkan Kiai Hasyim Muzadi pada tempat yang layak di NU, bukan membuangnya. Karena hal ini bukan tradisi NU. Sebagai keluarga besar, NU harus mengayomi siapapun yang pernah berbeda untuk nama besar dan kejayaan NU ke depan.

Itu harapan massa NU. Harapan mereka yang menyambut gempita kehadiran muktamar NU di Makassar sehingga membangkitkan gairah Aswaja di wilayah itu, menunggu karya dua tokoh yang telah dipilih muktamirin. Kita harus terus memperkaya Aswaja dan membelanya sebagai benteng tradisi keberagamaan Nusantara. Selamat bekerja Kiai Sahal dan Kang Said. Allah akan menolong Anda berdua. (bim)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s