Kyai Nyentrik Itu Dipanggil Gus Mus


KH A. Mustofa Bisri menerima gelar Doctor Honoris Causa dari Fakultas Adab Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga. Sebagaimana disebut dalam sambutan dekan Fakultas Adab, gelar ini adalah penghargaan atas jasa-jasa Gus Mus dalam mengembangkan ilmu kebudayaan Islam lewat kerja-kerja nyata. Karya-karyanya dinilai menyuarakan Islam yang menyejukkan, Islam yang mengentaskan, Islam yang mengayomi, Islam yang membebaskan, dan Islam yang mencerahkan.

Setiap orang yang mengenal Gus Mus, baik secara langsung maupun hanya melalui karya-karyanya, akan sepakat dengan pendapat di atas. Bahkan, seperti yang diutarakan Emha Ainun Nadjib, gelar itu terlalu kecil untuk memberi harga bagi jasa-jasa Gus Mus yang sedemikian besar, tidak hanya bagi umat Islam tapi juga bagi bangsa Indonesia.Di tengah pusaran zaman yang mengantar para pemimpin berlomba-lomba berebut kekuasaan politik, Gus Mus masih tetap sabar dan setia berdiri di pinggir mengurus soal-soal kebudayaan. Sebagai kiai, penyair, seniman, dan budayawan, sampai sekarang Gus Mus masih tekun menulis esai, mencipta puisi dan cerpen, melukis, berceramah, dan mengasuh pondok pesantren. Sebagaimana dulu saat Orde Baru berjaya, dia berjuang bahu-membahu bersama para penegak demokrasi dan HAM membela nasib rakyat kecil yang selalu menjadi korban pembangunan.

Perihal kepenyairan, dengan membaca beberapa puisi Gus Mus, Jamal D. Rahman menemukan pada diri Gus Mus sosok ulama dan penyair bersatu secara paripurna. Puisi-puisinya merefleksikan pertemuan kesadaran religius dan bangunan intuitif pada satu titik: dia bersifat sangat personal sekaligus sosial. Pada puisinya yang paling sunyi sekalipun, seperti Sajak Putih Buat Kekasih dan Seporsi Cinta, kita akan tetap merasakan dimensi sosial yang hendak diperjuangkan. Dengan kata lain, Gus Mus telah menghadirkan angin segar dalam blantika sastra Indonesia. Puisi-puisinya adalah suara kritis dari pedalaman pesantren, terdengar nyaring, keras, religius, namun juga jenaka.

Sedangkan Maman S. Mahayana mencermati beberapa cerpen Gus Mus sebagai representasi dari realitas masyarakat (Islam-pesantren) yang hidup dengan segala sistem kepercayaannya. Menurut Maman, kehadiran cerpen-cerpen Gus Mus tidak sekadar memperkaya tema cerpen Indonesia, tetapi juga menawarkan pandangan baru tentang terjadinya pergeseran peran kiai. Hal ini bisa kita baca pada cerpen Lukisan Kaligrafi, Ngelmu Sigar Rasa, dan Gus Jakfar. Di dalamnya terdapat sebuah pertanyaan besar: di manakah peranan para kiai hendak ditempatkan ketika zaman telah berubah dan kehidupan politik ikut mempengaruhi perilaku masyarakat?.

Tentang ke-ulama-an Gus Mus, mungkin tak ada satu orang pun yang hendak mempertanyakan. Dalam pandangan Acep Zamzam Noor, tak banyak tokoh NU yang unik dan lengkap seperti Gus Mus. Konfigurasi iman, akal, dan rasa menyatu dalam dirinya. Bahkan, Acep berani berkhayal seandainya tokoh-tokoh NU semuanya santai seperti Gus Mus, mungkin Indonesia akan aman. Mungkin jamiyah NU akan tenang dan damai. Mungkin politisi NU tidak akan kampungan dan kekanak-kanakan. Tapi sayangnya, masih menurut Acep, posisi seperti yang dipilih Gus Mus bukanlah posisi yang seksi di mata anak-anak muda NU. Mereka lebih tertarik terjun ke dunia politik praktis.

Lebih jauh lagi, Goenawan Mohamad menilai Gus Mus sangat dekat dengan apa yang disebutnya sebagai ”etika kedlaifan”. Ini tercermin dari perkataan Gus Mus dalam sebuah wawancara: ”Saya khawatir terhadap orang yang merasa sudah sempurna, lalu menganggap yang lain jahanam semua. Ini malah berbahaya. Orang yang memutlakkan diri sendiri itu sudah syirik, minimal syirik samar, karena yang mutlak benar itu hanya Allah.”

Bagi Goenawan, Gus Mus berbicara tentang hubungan antara manusia dan kebenaran, tidak sebagai sesuatu yang mutlak. Dia selalu mengingatkan bahwa Kebenaran hanya datang dalam wahyu, sesuatu yang dahsyat, sesuatu yang menyebabkan pingsan, dan ketika bangun, si pingsan berubah, bersetia kepada apa yang ditinggalkan kebenaran itu. Tapi jejak adalah jejak: sesuatu yang dikonstruksikan oleh yang datang kemudian. Orang sering lupa bahwa ada jarak antara ”jejak kebenaran” dan ”kebenaran” itu sendiri.

Di sinilah kita menjadi sadar, di balik kebesarannya, Gus Mus hanyalah manusia biasa. Buku ini menyuguhkan pengalaman-pengalaman unik yang hanya mungkin dikisahkan oleh orang-orang yang benar-benar dekat dengannya. Seperti puisi Taufiq Ismail yang bercerita tentang pengalamannya bersama Gus Mus menghadiri Festival Puisi Mirbid di Iraq pada 1989. Di dalam puisi ini kita bertemu dengan kehangatan persahabatan antara Gus Mus, Taufiq, Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi WM., Leon Agusta, dan Hamid Jabbar, lengkap dengan berbagai kisah lucu dan kekonyolan masing-masing.

Ada juga kisah Zawawi Imron, yang pada pertengahan 2008 diajak Gus Mus berkeliling Timur Tengah tanpa membayar ongkos sepeser pun. Saat makan bersama di sebuah hotel di Madinah, Gus Mus yang datang belakangan mengambilkan air minum untuk Zawawi yang sudah duduk makan lebih awal tapi lupa air minum. Zawawi benar-benar terkesan karena dirinya sebagai murid diperlakukan dengan demikian terhormat oleh sang guru.

Yang paling menarik adalah apa yang diceritakan Ienas Tsuroiyya, putri sulung Gus Mus yang juga istri Ulil Absar Abdalla. Dalam kisah Ienas kita diperkenalkan akan sosok Gus Mus sebagai seorang ayah yang bisa menjadi sahabat bagi seluruh anggota keluarganya. Dalam hal perjodohan putra-putrinya, misalnya, Gus Mus sangat demokratis. Dia mempersilakan putrinya memilih dan memutuskan sendiri calon suaminya, suatu hal yang langka di dunia pesantren.

Hingar bingar politik di Indonesia, banyak politikus yang membawa-bawa agama sebagai bemper kiprah politik mereka. Terutama Islam.  “Sekarang ini musim politik, semua dipolitisir, Islam masuk politik tetapi berpolitiknya kurang pede (percaya diri), kalau mau berpolitik pakailah ilmu politik, jangan bawa-bawa Tuhan ke politik,” kata Gus Mus, panggilan akrab K.H. Ahamd Mustofa Bisri usai menerima gelar Doctor Honoris Causa dai Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Menurut dia, umat islam merupakan mayoritas bangsa Indonesia, sehingga umat Islamlah yang paling bertanggungjawab terhadap baik-buruknya Indonesia. Yang membuat Indonesia baik atau buruk , menurut dia, tergantung seberapa jauh pemahaman dan penghayatan mereka terhadap keindahan Islam. Islam yang indah bisa menjaga dan mengembalikan keindahan Indonesia.

Ia menambahkan,  akhir-akhir ini keindahan islam justru bukan hanya tidak tampak. Tetapi dalam banyak hal menampakkan kebalikannya. Keindahan Islam hanya tampak dalam sila-sila Pancasila tanpa mewujud dalam kehidupan.

“Sila Ketuhanan Yang Maha Esa misalnya, yang seharusnya mampu memerdekakan manusia, tidak mampu lagi membuat manusia melepaskan diri dari belenggu perbudakan materi dan kepentingan diri sendiri. Sehingga, sila-sila pada Pancasila yang lain otomatis tidak bermakna,” kata dia dalam pidato nya.

Gus Mus pun mempertanyakan pandangan umat Islam tentang makna agama, terutama yang berkaitan dengan Tuhan. Jangan-jangan, kata dia,  rutinitas keberagamaan umum tanpa disadari telah bergeser pada salah kaprah dalam perilaku keberagamaan. “Agama itu menjadi wasilah (perantara, kendaraan) atau menjadi ghoyah (tujuan),” tanya Gus Mus.

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta menganugerahkan gelar Doctor Honoris Causa kepada KH Ahmad Mustofa Bisri, seorang budayawan dan Kiai asal Rembang, Jawa Tengah. Penganugerahan tersebut atas kiprah dia dalam bidang kebudayaan Islam.

Penganugerahan Doctor Honoris Causa oleh UIN Sunan Kalijaga ini tegolong langka setelah lebih 30 tahun yang lalu saat masih menjadi IAIN (Institut Agama Islam Negeri) memberikan gelar tersebut kepada Mufti Syria, Ahmad Badruddin Hasyim.

Usai penganugerahan, Gus Mus merasa sangat senang. Padahal sebelum penganugerahan, pada awalnya ia sempat menolak penganugerahan tersebut, namun setelah panitia menjelaskan penganugerahan tidak hanya karena pribadi Gus Mus, namun juga pada ajaran-ajaran Islam yang disampaikan oleh Gus Mus. Sehingga Gus Mus berkenan menerima anugerah tersebut.

“Ini pertama kali saya memakai toga, saat di Cairo pun tidak memakai toga,” kata Gus Mus dengan tersenyum. Menurut Gus Mus, orang Islam di Indonesia masih terjebak oleh Fiqih halal dan haram. Namun tidak memahami Islam itu sendiri.

“Islam di Indonesia lebih ke fiqih. Selalu dengar halal-haram, rokok haram, facebook haram. Islam itu tidak hanya halal-haram saja, tapi bagaimana Islam bisa memberi ketenteraman kehidupan manusia,” kata Gus Mus

Ketua PP Muhammadiyah, Prof Dien Syamsuddin menyatakan pemberian gelar Doktor Honoris Causa kepada Gus mus sangat tepat. Apalagi selama ini, pengasuh Pondok Pesantren Taman Pelajar Rembang itu banyak memberi warna kebudayaan Islam di tanah air. Untuk konteks kebudayaan di Indonesia, pemikiran-pemikiran, karya dan kiprah Gus Mus sangat nyata dalam mengembangkan warna Islam yang disebut Islam budaya.

“Gus Mus memberi konteks nuansa budaya Islam, meski Islam tidak bisa direduksi atau banyak mendapat embel-embel. Pentingnya penonjolan Islam sebagai manifestasi kultural jadi kenyataan, ada bukti empiris dalam kehidupan masyarakat Indonesia,” kata Dien.

Ibarat sebuah rumah, Gus Mus memiliki seribu pintu, setiap orang bisa masuk dan keluar darimana pun ia suka. (Hamdy Salad).

KH Mustofa Bisri (Gus Mus) ini, merupakan sosok seorang yang kompleks dalam berbagai bidang keilmuan. Selain kepak sayap kecerdasannya sebagai ulama penegak Syari’at Islam, Gus Mus juga seorang yang berkompeten dalam bidang intelektual, jurnalistik, kebudayaan, serta kesusastraan.

Potret masa kecilnya, Gus Mus terkenal dengan kehausannya akan ilmu pengetahuan. Banyak pesantren di seluruh Jawa penah didatangi dan diubek-ubeknya untuk mencari ilmu pengetahuan serta hikmah di dalamnya. Pesantren-pesantren yang pernah ia singgahi banyak tersebar di negeri ini, seperti halnya Pesantren Lirboyo Kediri, Al Munawwir Krapyak, Yogyakarta, dan lain-lainnya.

Dalam bidang kepenulisan (Jurnalistik), Gus Mus sangat berpengalaman dalam dunia ini. Sekitar tahun 1970-an ia sering menggunakan identitas kepenulisannya di media masa dengan nama M. Ustov Abisri. Oleh kerena itu, Selamet Effendy Yusuf memasuki kedalaman cakrawala Gus Mus dari segi background nama samarannya tersebut. Menurut Effendy, sosok KH Mustofa Bisri tidak hanya cakap dalam menuliskan berbagai jenis artikel tentang aspek Agama Islam, tetapi ia juga terkenal sebagi penyair dan cerpenis.

Dalam bidang Islam, is adalah bintang panggung atau orator ulung. Diksi dan majas serta intonasi suara yang ia gunakan untuk menyampaikan orasinya di depan ribuan mata publik, mampu membuat para pendengarnya khusyuk mencermati dan mendalami penjelasan-penjeasan beliau.

Selain itu, M. Ustov Abisri juga sekaligus sebagai seorang agiator yang mampu menggugah dan menggerakkan masyarakat luas untuk menentang semua hal yang menyimpang dari prinsip-prinsip Syariat Islam. Sikap dan tindakannya sangat tegas terhadap para pemimpin yang menyeleweng dan membuat rakyatnya tidak sejahtera. Bahkan beliau sering menyerukan kepada masyarakat untuk melawan para penguasa yang dzalim.

Beliau mengatakan bahwa di Indonesia itu banyak orang yang menganut paham angger gelem, banyak orang yang tak tahu politik tapi tetap nekat mendirikan partai. Tak jelas apa tujuannya, termasuk di kalangan kyai dan pemuka agama.

“Dulu saya menduga, para kyai ikut politik itu karena kasihan melihat umatnya, tapi lama-kelaman kelihatannya mereka seperti seneng sendiri, keenakan. Tapi akhirnya mereka selalu kalah karena tidak punya bahan, tidak kenal politik. Jalan pintasnya, Gusti Allah diajak kampanye hehe….”

Gus Mus juga mengajak kita semua untuk tidak memahami islam secara parsial. Seperti orang buta yang memegang kaki gajah lalu mengatakn gajah itu seperti bumbung. Tidak merasa paling benar sendiri.
Caranya adalah dengan cara terus belajar dan berpikir kritis agar kita menganal Allah, tahu ajarannya dan kemauan-Nya. Untuk itu beliau memberi kiat pada kami tentang cara belajar ala Gus Mus yaitu selalu menjadikan apa saja sebagai guru yang bisa diambil pelajarannya, kapan saja dan di mana saja.

Bisa dari anak kecil, pengemis, mahasiswa, bahkan Facebook. Saya malah sering mendapatkan ilmu yang sebelumnya tidak terpikirkan dari cucu saya, soal Facebook anak saya yang mengajari. Terakhir Gus Mus memberi wejangan agar kami selalu belajar walaupun sudah lulus jadi sarajana. “Sebab ketika seseorang itu merasa pandai lalu berhenti belajar maka saat itulah ia mulai jatuh dalam jurang kebodohan.”

Kyai menulis cerpen tentu bukan hal yang lazim. Barangkali sama ganjilnya dengan tokoh Kyai Tawakkal. Bisa jadi Kyai Tawakkal itu Gus Mus sendiri, atau Gus Jakfar itu Gus Mus sebelum menemukan guru “mistik” Kyai Tawakkal itu? Muhamad Sulhanudin mewawancarai kyai “nyeleneh” ini di kediamannya di Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Jalan Mulyo No. 4 Rembang, Jawa Tengah.

Ketika anda menulis cerpen atau puisi, apa tidak ada penolakan dari keluarga atau santri anda?
Itu sebetulnya inheren dengan pesantren. Cuma karena pesantren sekarang berubah, orang mengira itu bukan dari pesantren. Tradisi bersyair itu di pesantren sudah ada sejak zaman nabi. Meski nabi tidak diajarkan bersyair, dia bersyair. Wa ma allamnuhu syi’ro wa ma yambaghilah. Jadi karena beliau nabi, tidak sepantasnya beliau bersyair. Tapi beliau sangat apresiatif terhadap sastra. Beliau bicara bersastra. Lihat saja hadist-hadist-nya, indah sekali. Kemudian beliau mendengarkan dengan sangat antusias ketika ada penyair membaca puisi.

Bahkan pernah Ka’ab bin Zuhair itu membaca qosidah panjangnya Banat Su’ad itu beliau sampai mencopot burdahnya, seperti mantelnya dikasihkan ke penyair itu. Dulu penyair itu kelas atas zaman jahiliyah itu. Mereka yang penyair itu paling ditakuti dan paling disegani. Nabi bukan penyair, tapi beliau tahu sastra. Kemudian belakangan sahabat Abu Bakar, sahabat Umar sampai saya itu bersyair. Tentu saja sesuai dengan bahasanya. Seperti ayah saya membikin puisi bahasa Jawa, banyak sekali. Bahkan sampai orang sekarang tidak tahu seperti “Tombo Ati” itu puisi ayah saya. Seperti guru saya Kyai Ali Ma’sum, dia menulis syair-syair bagus sekali dalam bahasa Jawa. Yang lain-lain yang saya tahu, mereka menggunakan bahasa Arab. Kyai Hamid Pasuruan yang terkenal sebagai wali, sebetulnya dia sastrawan, mempunyai diwan, kumpulan puisi bahasa Arab. Kyai Hasyim Asy’ari, dia juga mempunyai kumpulan syair. Jadi itu wajar. Kalau saya menulis syair, orang tua saya malah seneng. Karena saya mengikuti tradisi pesantren.

KH Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, selain kiai, adalah seniman, pengarang, dan aktif di berbagai kegiatan sosial dan keagamaan. Juga, pernah menjadi anggota dewan. Beragam kegiatan ini memberi implikasi unik dalam ziarah kreatifnya. Ia bertegur sapa dengan realitas sosiologis dan psikologis tertentu. Maka, menarik menilik bagaimana warna puisi Gus Mus terkait momentum Pemilu 2009 kini. Dibandingkan Taufik Ismail, puisi politik Gus Mus memiliki corak khas berlatar pesantren dan tradisi pesisir.

Gus Mus telah muncul ke publik sastra Indonesia sejak era 1980-an ketika pulang dari Mesir melalui Kumpulan Puisi Balsem Ohoi. Kini, telah banyak karya dilahirkan, fiksi ataupun nonfiksi. Seperti Ohoi, Kum pul an Puisi Balsem, Tadarus, dan Negeri Da ging, Lukisan Kaligrafi, dan sebagainya. Ba gai mana Gus Mus bicara politik, khususnya pemilu dan kampanye? Tentu, puisi bagi Gus Mus tak sekadar hiburan, tetapi juga taushi yahsekaligus medan advokasi bagi umat. Bagi Gus Mus, barangkali, kritik terhadap penguasa, rakyat, atau dirinya sendiri ialah tanda cinta, bukan kebencian. Simak kritik Gus Mus tentang kampanye politik dalam “Jangan Berpidato”: Jangan berpidato! Kata-katamu yang paling bijak/ Hanyalah bedak murah yang tak sanggup lagi/ Menutupi korengborok- kurap-kudis-panu-mu.

Gus Mus mengecam perilaku pejabat yang suka kampanye untuk menutup kebobrokan. Ada kamuflase di balik retorika. Elite gemar memanipulasi rakyat dan melakukan penyimpangan. Gema cinta Gus Mus terpasang di puisi pamflet, seperti demonstran yang meng gemakan suara cinta untuk seluruh bangsa.

Cara bicara pejabat sering terdengar indah memukau. Penuh retorika dan bunga baha sa. Justru itu dapat mengecoh kesadaran rakyat. Bertahun-tahun rakyat ditipu, lalu diabaikan. Gus Mus seperti ingin menyapa cinta kepada penguasa. Gus Mus cinta rakyat dan juga penguasa. Karena itu, penguasa harus diluruskan agar tidak terjerumus penyimpang an dan agar penguasa berbuat baik, men jaga moral, menegakkan hukum, dan sete rus nya. Gus Mus geram ketika cinta telah di khianati. Penguasa yang seharusnya mencintai rakyat justru berkhianat dan meninggal kan kepentingan rakyat.

Nada geram itu, misalnya, juga terdengar dari puisi “Anonim”, Siapa yang bersedia menyerahkan lubang telinga/ Untuk kau jejali rongsokan huruf dan kata-kata?/ Siapa?/ Kenapa kau tak menoleh sekejap saja?.

Melalui puisi, Gus Mus menyorot hobi penguasa yang banyak bicara dibandingkan bekerja. Penguasa lebih suka ngomongdaripada realisasi janji. Ucapan dan tindakan yang tak sinkron itu membuat rakyat muak. Lewat puisi, Gus Mus berteriak: “siapa yang bersedia menyerahkan lubang telinga”. Itulah lu kis an ke geraman rakyat. Rakyat kian cuek ke pada penguasa. Tak salah bila muncul fe nomena golput. Penguasa perlu merenung kan kondisi rakyat yang dilanda kesulitan. Ti dak seharusnya hanya menuntut rakyat. Jus tru, penguasa harus peduli rakyat dengan me rumuskan dan menjalan kan kebijakan yang berpihak kepada mereka. Itulah bukti cinta penguasa kepada rakyat. Pada puisi “Mantan Rakyat”, Gus Mus menyindir perilaku calon legislatif atau anggota legislatif, Mantan rakyat bertemu rakyat/ Ber bicara atas nama rakyat demi rakyat/ Dan rakyat pun saling bertanya/ Apakah dia pernah jadi rakyat?

Puisi Gus Mus mengirim kritik pedas ke pa da mereka yang hobi memanipulasi rakyat. Se mua kebijakan dikatakan demi rakyat, pa da hal untuk kepentingan golongan dan diri sendiri. Mereka menjual rakyat. Penguasa bilang cinta rakyat, te tapi justru menindasnya. Yang dilakukan bukannya membuktikan rasa cinta, tetapi justru menebar kebencian dan dendam di hati rakyat. Rakyat hanya dikirim penderitaan dan kesengsaraan.

Puisi Gus Mus menjadi penyambung lidah rakyat. Inilah suara rakyat. Suara rakyat ada lah suara tuhan. Suara rakyat tulus penuh cinta. Mereka merasakan langsung dampak perilaku penguasa. Saat pemilu, rakyat dibutuhkan, diiming-imingi ‘mawar merah’. Calon penguasa datang dengan senyum merekah, membawa buah tangan, dan segenap janji gombal. Setelah jadi penguasa, mereka abai dan berkhianat. Maka, lewat puisi, Gus Mus menggugat: apakah para penguasa itu per nah menjadi rakyat? Kok, mereka mengaku atas nama dan demi rakyat? Bila pernah jadi rakyat, mengapa kebijakan dan perilakunya jauh dari mencintai rakyat?

Keprihatinan memuncak terlihat dalam proses penegakan hukum di Indonesia. Maka, puisi Gus Mus berjudul “Keadilan” cukup bicara pendek: hampir tertangkap mimpi.

Panggung hukum dan peradilan belum menjadi ruang penegakan keadilan. Hukum masih berpihak kepada yang kuat dan kuasa. Rakyat kecil sering menjadi korban, kambing hitam, dan martir politik. “Hampir tertangkap mimpi,” itulah ungkapan pendek puisi Gus Mus.. Ada nada pesimis, sekaligus skeptis. Namun, menyimpan makna mendalam. Sindiran menyentil dan pendek, namun menggugah. Menegakan hukum itu tidak perlu banyak bicara, tetapi praktik nyata dan bukan hanya retorika.

Kita menyaksikan, diskriminasi terjadi dalam penegakan hukum. Seorang pencuri ayam dihajar massa hingga mati. Sementara itu, koruptor uang negara yang miliaran, bahkan triliunan rupiah lolos jerat hukum. Tragisnya, di penjara diberi fasilitas megah dan mewah.

Kritik keras Gus Mus lewat puisi menunjukkan karakter kepenyairan Gus Mus. Selain pesantren, landas tumpu ziarah kreatif Gus Mus adalah masyarakat. Ketika menjadi kiai, budayawan, pegiat sosial, dan sebagainya, ia bertegur sapa secara langsung dengan rakyat kecil. Menyerap unek-unek dan keluh kesah. Puisi seakan menjadi jembatan bagi Gus Mus untuk bertegur sapa dengan ma sya rakat. Atau, justru puisi itu sendiri adalah suara rakyat, detak jantung umat yang ter da lam, yang tersumbat dalam ruang batin wong cilik. Lantas, Gus Mus menyuarakannya. Ba nyak tema-tema kerakyatan, nasib wong cilik, ketidakberdayaan, menyindir perilaku pengua sayang tidak adil, dan sebagainya sa ngat dominan dalam warna puisi Gus Mus.

Ini seakan mengungkap bahwa penyair ti dak dapat lepas dari kehidupan rakyat. Ia la hir dan tumbuh berkembang di tengah rak yat. Ia bagian dari takdir kesejarahan peradaban dunia. Ia tak mungkin melepas diri, le pas tangan, atau cuek dari beragam persoalan manusia. Penyair harus terlibat aktif lewat wacana sekaligus merumuskan tata kehidupan masyarakat.

Dunia Gus Mus memang dunia misterius. Inilah yang terekam dari berbagai kisah dan tanggapan para tokoh dalam buku bertajuk “Gus Mus; Satu Rumah, Seribu Pintu”. Buku yang memang dipersiapkan acara penganugrahan Dr. HC memang banyak mengupas sisi misterius dalam diri Gus Rembang ini. Setiap kesan yang meluncur dari pena para kawan karibnya selalu menghadirkan misteri baru yang belum terungkap. Satu persatu dari penulis membawa misteri dari Gus Mus.

Mengawali sisi misterius Gus Mus adalah M Imam Aziz yang menjadi pengantar buku ini. Mas Imam, pangggilan akrabnya, secara blak-blakan menjuluki Gus Mus sebagai sosok misterius. Sejak awal pembuka tulisan sampai merampungkan tulisannya, bagi Mas Imam, Gus Mus adalah misteri yang yang bergelayut dalam dirinya sampai sekarang. Khususnya melihat kepribadiannya yang kompleks dan sepak terjangnya dalam pergolakan di tubuh Nahdlatul Ulama’ (NU), Gus Mus dinilai sebagai sosok misterius. Gerak-geriknya kadang blak-blakan, frantal, tanpa tedeng, tetapi kadang juga “diam”, membisu, sukar ditafsirkan.

Dalam dunia tulis, Slamet Efendy Yusuf melihat sosok Gus Mus sebagaia misteri juga. Waktu itu, Slamet masih aktif di Majalah Arena IAIN Sunan Kalijaga. Ada yang mengirim cerpen, pengirimnya adalah M. Ustov Abisri. Dengan nama samaran (yang plesetan) ini, Gus Mus ingin membangun misteri dalam diri karyanya.

Misteriusitas Gus Mus juga terbaca dari tulisan-tulisan Acep Zamzam Noor, D Zawawi Imron, Ahmad Thohari, Syu’bah Asa, Jamal D Rahman, dan sebagainya. Dunia Gus Mus di pesantren yang dikenal khusyu’ dan tawadu’ sangatlah berbeda dengan dunia Gus Mus di luar pesantren, dimana beliau bisa bergerak dengan eklektik dan fleksibel dalam berbagai jala kehidupan.

Cak Nun menjuluki Gus Mus bisa menjadi air zamzam di tengah comberan. Yang dimaksud Cak Nun adalah Gus Mus mampu menjadi mata air yang sejuk dan menenangkan ketika dia harus aktif dalam gelanggang hidup yang pongah dan jengah. Air zamzam Gus Mus selalu hadir dalam setiap sepak terjang hidupnya. Walaupun kadang misterius yang dilakukan, tetap saja publik menerimanya sebagai mata air yang menentramkan, karena Gus Mus mampu menjadi ruh penyejuk yang ditunggu-tunggu pengagumnya.

Menurut Syu’bah Asa, Gus Mus bisa menerapkan pergaulan keislaman yang stel kendo. Islam yang ditampilkan selalu santai, sejuk, nyaman, dan menetramkan. Bervisi inklusif, toleran, dan harmonis. Gus Mus tidak menghendaki Islam yang stel kenceng. Islam yang dipraktekkan dengan amarah, otoriter, dan penuh intimidasi. Karena menekuni gaya ber-Islam yang stel kendo, Gus Mus selalu bisa diterima semua pihak. Termasuk dalam berbagai konflik di lingkungan NU dan lingkungan kiai, Gus Mus selalu ditempatkan sebagai penengah yang bijak.

Sementara di mata kaum akademikus, Gus Mus dinilai sukses mencipta karya tulisan dan karya kiprah di masyarakat yang sejuk, harmonis, dan toleran. Karya karya Gus Mus begitu dekat dengan spiritualitas, khususnya dekat dengan spiritualitas pesantren. Bukan sekedar spiritualis, tetapi Gus Mus juga menghadirkan kritik sosial yang berani dan menggugat. Inilah analisis yang disajikan Abdul Wachid BS, Aning Ayu Kusumawati, dan Maman S Mahayana.

Terlepas dari itu semua, bagi keluarga dan santrinya, Gus Mus adalah sosok kepala rumah tangga dan kiai yang sejuk dan demokratis. Putra-putrinya diberikan kebebasan menentukan pilihan hidup yang akan dijalani. Sekolah tidak harus di pesantren, boleh di sekolah umum. Terbukti anak pertamanya, Ienes Tsuroyya memilih sekolah SMA di Semarang, dan Gus Mus mengizinkan. Dalam memilih jodoh pun, Gus Mus mengembalikan kepada putra-putrinya.

Sementara sebagai kiai, Gus Mus sangat demokratis, tetapi sangat teguh memegang prinsip dan nilai kepesantrenan. Yahya C Tsaquf mengkisahkan bahwa ketika mau meminta bantuan kepada pejabat negara dan meminta tanda tangan sang paman, Gus Mus marah-marah. Gus Mus tidak ingin membangun pesantren dari dana-dana siluman yang tak jelas jalurnya. Sang ayah (KH Bisri Musthofa) dan sang kakak (KH Kholil Bisri) tidak mengajarkan demikian.

Segala pernak-pernik hidup yang melekat dalam diri Gus Mus, memang terus menjelma misteri. Karena ibarat rumah, tulis Hamdy Salad, Gus Mus memiliki seribu pintu. Setiap orang bisa masuk dan keluar dari mana saja yang disuka.

Akhirnya, tulisan ini memang tidak mungkin menghadirkan gambaran yang utuh tentang sosok Gus Mus. Bahkan, 99 persen hanya menggambarkan sisi baik Gus Mus, atau dengan kata lain hanya memuji. Meskipun demikian, di balik minimnya kritik, kita tetap mendapatkan banyak hal yang memang layak untuk kita pelajari dan teladani di tengah keterpurukan bangsa tercinta ini. Di tengah kecamuk politik yang semakin hari semakin memanas, bangsa ini membutuhkan oase untuk menyegarkan diri: pujangga yang konsisten menjaga jarak dengan politik demi memelihara keutuhan bangsa. Adakah yang lebih indah daripada sosok kiai yang mengisi ceramah keagamaannya dengan membaca cerpen dan puisi? Sedangkan di tempat lain kita masih sering bertemu orang-orang yang memekikkan ”Allahu Akbar” dengan penuh kebencian. (diolah dari berbagai sumber).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s