Nu Miring


Oleh : Binhad Nurrohmat

Fulan (F): Kenapa Anda menjadi orang NU?
Binhad Nurrohmat (BN): “Itu bukan pilihan saya. Itu takdir saja. Atau, mungkin karena orangtua saya bukan pengikut Muhammadiyah, Katholik, Ahmadiyah, atau Ateis. Sejak saya kecil orangtua saya mengajari saya shalat, doa qunut, kitab kuning, sowan kyai, shalawat, ziarah kubur, juga tahlilan. Sebelum muncul intuisi pacaran, saya masuk pesantren. Pesantren itu jantung NU. Selain takdir, mungkin saya menjadi orang NU karena bakat saya memang menjadi orang NU.”

F: Anda merasa bermutu sebagai orang NU?

BN: “Saya tak tahu dan tak peduli. Saya gembira menjadi orang NU. Saya bisa sarungan, tahlilan, merokok, sowan kyai, dan ziarah kubur tanpa kendala karena saya orang NU. Menurut saya, ciri utama orang NU yang bermutu adalah gembira. Sepertinya saya sukar gembira bila saya bukan orang NU. Merokok, ziarah kubur, dan tahlilan adalah hobi saya. Hanya NU yang bisa mendukung hobi saya itu.” F: Anda punya hubungan organisasional dengan NU?
BN: “Saya tak punya bakat rapat atau berorganisasi. Tapi dulu saya menjadi pengurus GP Anshor di kampung saya. Sekarang saya pensiun dari Anshor. Jika ini bisa disebut hubungan organisasional, sesekali saya mampir ke kantor organisasi PBNU untuk merokok, minum kopi, atau menikmati lift-nya yang berbahasa Arab dan berjenis kelamin perempuan itu.”

F: Lift kantor PBNU berbahasa Arab dan berjenis kelamin?
B: “Wallahi, demi Allah, ini bukan fiksi. Misal, Sampeyan pakai lift menuju lantai 5 gedung PBNU, setiba di lantai 5 dan sebelum pintu lift terbuka, mesin lift bicara dan suaranya semerdu wanita: ‘Alhamdulillah, Anda tiba di lantai 5.’ Silakan cek sendiri jika tak percaya.”

F: Anda jenis NU kultural?
BN: “Saya tak tahu. Semua orang bisa mengaku NU kultural, NU struktural, NU original, NU eksistensial, NU feeling, maupun NU seksual. Semua itu tak penting bagi saya. Semua itu hanya istilah. Cuma kata-kata. Tapi jika ada yang mau menyebut saya ini jenis NU apa, sebut saja saya ‘NU Miring’. Silakan saja.”

F: “NU Miring”? Apa alasan Anda mau disebut “NU Miring”?
BN: “Pertama, alasan religius. Posisi bangunan masjid dan langgar orang NU biasanya miring, serong ke kiblat searah posisi shalat. Posisi jenazah orang NU dalam kuburan sebelum ketemu malaikat juga miring. Peci orang NU yang ahli wirid juga miring karena kepalanya goyang kanan goyang kiri.

Kedua, alasan seksual. Bercinta gaya miring posisinya sejajar. Posisi bercinta gaya miring paling egaliter. Tak ada yang di bawah atau di atas, tak ada up atau down, tak ada yang menindih atau yang ditindih. Bercinta gaya miring bisa melahirkan keturunan yang egaliter. NU yang saya dambakan adalah NU yang egaliter. Feodalisme di lingkungan NU harus dibuang ke laut.

Yang terakhir, alasan politis. Miring juga simbol oposisi. Kaum oposisi menolak bersikap lurus mengikuti kemauan rezim yang payah. Selain itu, kaum oposisi jalannya sering miring karena kecapekan diskusi politik atau aksi demo. Saya juga ingin NU punya sikap oposisional. Darah sejarah NU adalah darah oposisional. NU membentuk Komite Hijaz untuk melawan pengekangan kebebasan bermazhab di Tanah Arab oleh kelompok Wahabi. Gus Dur mengkritisi otoritarianisme rezim Soeharto. Masih banyak contoh lain sikap oposisional NU.”

F: Apa hubungan “NU Miring” dengan “Islam Gembira”?
BN: “Hubungannya mesra hehehe…”

F: Bagaimana Muktamar NU kali ini?
BN: “Soal itu terus-terang saya merasa lebih afdol ikut gaya Desy Ratnasari bila ditanya wartawan: ‘No comment!’. Menurut saya sih perlu ada Tarekat “No Comment” Desy Ratnasari. Tak semua hal bisa atau mesti dikatakan, bukan?”

F: Anda kenal Desy Ratnasari?
BN: “Hmmm… Pertanyaan Sampeyan tendensius dan menjurus. Rawan gosip. Sangat sensitif. Lebih sensitif ketimbang politik Muktamar NU. Tapi, memang sih elite NU kurang sensitif aspirasi ummat. Makanya banyak orang NU yang potensial digandeng kelompok lain karena tak dipakai di NU. Kini juga banyak masjid yang tak lagi bergaya NU seperti dulu, mungkin karena orang NU sekarang ini jarang ke masjid gara-gara sibuk berpolitik. Orang NU banyak tapi tak kuat. Orang NU kehilangan panutan, kehilangan induk, seperti anak yatim yang bingung, makanya sering dimanfaatkan.”

F: Soal politik praktis NU?
BN: “Ah, itu kuno. Seruan agar NU tak terlibat politik praktis sudah klise. NU pernah menjadi partai politik. Sekarang siapa bisa melarang NU tak berpolitik praktis? Menurut saya, NU berpolitik praktis atau tahlilan, NU merokok atau ziarah kubur, yang terpenting bagaimana NU makin kuat dan menggembirakan ummat.”

F: Sepertinya Anda tak harmonis dengan NU? Pernah ingin keluar dari NU?
BN: “Saya selalu harmonis dengan NU dalam diri saya sendiri. Darah yang mengalir di tubuh saya ini darah orang NU. Saya menjadi orang NU karena takdir, bakat, dan keturunan. Bagaimana mungkin saya keluar dari takdir, bakat, dan garis keturunan saya?”

F: Ada pesan khusus untuk peserta Muktamar NU?
BN: “Ada. Pesan saya ini untuk semua muktamirin. Meski sibuk muktamar jangan lupa shalat 5 waktu (kecuali yang haid) dan meski jauh dari keluarga jangan tergoda nikah siri.”

Sumber : Website Buntet Pesantren

dari : http://nahdliyin.net/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s