Solusi Atasi Keraguan Salat Menghadap Kiblat


Jakarta, NUBatik Online Ketua Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) KH Ghazali Masruri menegaskan, arah kiblat dari Indonesia adalah barat laut, bukan arah barat seperti yang selama ini dipahami khalayak awam.”Kiblat bukan di barat, tetapi di barat laut. Dari arah barat lurus bergeser sedikit ke utara kira-kira antara 20-25 derajat,” kata Kiai Ghazali dalam seminar bertajuk “Kontroversi Arah Kiblat” yang digelar Lembaga Ta`mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) di Jakarta. Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga mengumumkan temuannya bahwa telah terjadi kekeliruan arah kiblat kaum muslim Indonesia. Selama ini, kebanyakan kaum muslim Indonesia shalat menghadap Afrika. Namun seiring dengan pergeseran lempeng bumi arah kiblat bagi umat Islam Indonesia bergeser sekitar 140 sentimeter. Dipandang dari posisi Indonesia, selama ini sebagian kaum muslim Indonesia yang melaksanakan shalat beranggapan Ka‘bah terletak di sebelah Barat Laut. Namun menurut sejumlah ahli falaq atau astronomi, arah kiblat dari posisi Indonesia, kini berubah. Perubahan arah kiblat diangkat dalam acara Semiloka Nasional Kementerian Agama RI di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Mantan Menteri Agama, Tolchah Hasan, menyebutkan bahwa perubahan ini terjadi lantaran adanya pergeseran lempeng bumi. Pendapat tersebut sejalan dengan fatwa MUI Nomor 3 tahun 2010. Menurut MUI, arah kiblat dari posisi Indonesia telah terjadi kesalahan. Karena itu MUI mengimbau, kaum muslimin segera menyesuaikan arah kiblatnya. Secara sederhana penyesuaian arah kiblat dapat dilakukan dengan melihat bayang-bayang matahari pada waktu tertentu atau rashdul kiblat. Rashdul kiblat itu setiap 28 Mei pukul 16.18 WIB atau setiap 16 Juli pukul 16.27 WIB. Pada saat itu, semua benda tegak lurus adalah arah kiblat. Walaupun pada dasarnya rashdul kiblat dapat dihitung dalam setiap harinya dengan mengetahui deklinasi matahari. Hanya saja penetapan dua hari rashdul kiblat tersebut adalah atas pertimbangan matahari benar-benar di atas ka’bah. Ghazali juga sependapat, pada medio Juli itu merupakan saat yang tepat untuk meluruskan arah kiblat. Berdasar data hisab LFNU, pada pukul 16.26 WIB matahari akan tepat berada di atas Ka‘bah. Ini akan membantu umat Islam dalam meluruskan arah kiblat dengan cara yang sederhana, karena saat matahari tepat di atas Ka‘bah segala sesuatu yang berdiri tegak bayangannya menuju kiblat. Kendati demikian, untuk meluruskan arah kiblat tidak harus dilakukan pembongkaran masjid atau mushala, cukup shaf atau barisannya saja yang digeser. “Pengelola masjid cukup menggeser arah sajadah saja, arah barisan salatnya. Ini kan tidak harus lurus dengan tembok, kalau memang temboknya tidak lurus kiblat,” katanya. Terkait hal ini, Menteri Agama, Suryadharma Ali meminta agar persoalan arah kiblat jangan dipermasalahkan lagi, sehingga dilakukan secara ijtihad (kemampuan) masing-masing orang saja. “Selama ini kalau kita sholat, tidak mungkin 100 persen sempurna dengan arah kiblat yang sebenarnya. Pasti ada bergesernya sedikit,” katanya. Oleh karena itu, permasalahan arah kiblat yang sudah difatwakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) tidak perlu dibahas kembali. “Tidak perlu masjid-masjid yang ada di Indonesia dirombak. Ini akan memberatkan,” ucapnya. Ketua MUI KH Ma‘ruf Amin merevisi arah tersebut karena posisi negara Indonesia yang tidak berada di wilayah timur Ka‘bah. “Indonesia itu letaknya tidak di timur pas Kabah tapi agak ke selatan, jadi arah kiblat kita juga tidak barat pas tapi agak miring yaitu arah barat laut.”. (duta/bim)

sumber : http://nubatik.net/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s