KOMANDAN LASKAR ANDALAN


Oleh : KH.Sholeh Suaedi

Ketika usia KH. Abbas mulai sepuh, sementara perjuangan kemerdekaan saat itu sedang menuju puncaknya, terpaksa beliau meninggalkan kegiatan mengajar kitab kuning pada ribuan santrinya, selanjutnya kegiatan pengajian diserahkan sepenuhnya pada kedua adiknya KH. Anas dan KH. Akyas. Sementara itu, KH. Abbas sendiri lebih banyak memusatkan perhatian pada kegiatan dakwah di masyarakat dan mengajar ilmu-ilmu kanuragan atau bela diri, sebagai bekal masyarakat untuk melawan penjajah Belanda.

Tampaknya beliau mewarisi darah perjuangan dari kakeknya yaitu Mbah Muqayyim, yang rela meninggalkan keraton Cirebon karena menolak kehadiran Belanda. Beliau mulai merintis perlawanan dengan mengajarkan berbagai ilmu kesaktian pada masyarakat.

Orang-orang yang berguru pada KH. Abbas bukanlah sembarangan atau pesilat pemula, melainkan para pendekar yang ingin meningkatkan ilmunya. KH. Abbas mempunyai cara tersendiri untuk mengukur seberapa tinggi kesaktian mereka. Beliau menerima tamu tertentu dan langsung dibawa masuk ke kamar pribadi untuk diuji kemampuannya dengan melakukan duel. Barulah setelah diketahui kemampuannya, beliau memberikan “ijazah” berbagai amalan yang diperlukan.

Buntet Pesantren mulai saat itu menjadi basis dan markas pergerakan umat Islam melawan penjajah yang tergabung dalam barisan Hizbulloh. Sebagaimana sabilillah, Hizbulloh juga merupakan kekuatan yang tangguh dan sangat disegani musuh. Kekuatan itu diperoleh berkat gemblengan KH. Abbas dan pengalaman mereka pada pendidikan PETA (Pembela Tanah Air). Organisasi ini diketuai KH. Abbas dan dibantu oleh ulama lain seperti KH. Anas, KH. Murtadlo, KH. Sholeh, KH. Mudjahid, KH. Busyrol Karim. Dari sini muncul tokoh Hizbulloh di era pergerakan nasional yang berasal dari Cirebon seperti KH. Abdullah Abbas putra KH. Abbas, dan KH. Hasyim Anwar.

Ketika melakukan perang gerilya, lasykar Hizbulloh memusatkan pertahanannya di daerah Legok kec. Cidahu, Kuningan. Dengan front di perbukitan cimaneunteung yang terletak di daerah waled selatan membentang ke bukit Cihirup kec. Cipancur, Kuningan. Daerah itu terus dipertahankan sampai terjadinya perundingan Renvile yang kemudian pemerintah RI beserta seluruh tentaranya hijrah ke Yogyakarta. Selanjutnya KH. Abbas juga mengirimkan para pemuda lasykar Hizbulloh ke berbagai daerah pertahanan seperti ke Jakarta, Bekasi, Cianjur.

Selain mendirikan Hizbulloh, KH. Abbas membentuk organisasi yang bernama Asybal yang terdiri dari anak-anak yang berusia dibawah 17 tahun. Organisasi ini sengaja dibentuk sebagai pasukan pengintai atau mata-mata, untuk mengetahui gerakan musuh sekaligus juga sebagai penghubung dari daerah pertahanan sampai front terdepan.

Kekuatan lasykar yang dibangun oleh KH. Abbas itu kemudian menjadi pilar penting bagi tercetusnya revolusi November di Surabaya tahun 1945. Peristiwa itu terbukti setelah KH. Hasyim Asy”ari mengeluarkan resolusi jihad pada 22 Oktober 1945. Bung Tomo segera datang berkonsultasi pada KH. Hasyim Asy’ari guna minta restu dimulainya perlawanan terhadap tentara Inggris, tetapi KH. Hasyim Asy’ari menyarankan agar perlawanan rakyat itu jangan dimulai terlebih dahulu sebelum KH. Abbas sebagai lasykar andalannya datang ke Surabaya. Memang setelah itu, lasykar dari Buntet Pesantren dibawah pimpinan KH. Abbas mempunyai peranan besar dalam perjuangan menentang tentara Inggris yang kemudian dikenal dengan peristiwa 10 November 1945. Atas restu Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, beliau terlibat langsung dalam pertempuran Surabaya tersebut.

Hubungan KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Abbas memang sudah lama terjalin, terlihat ketika pertama kali KH. Hasyim Asy’ari mendirikan pesantren Tebu ireng. Kyai sakti dari Cirebon banyak memberikan perlindungan, terutama saat diganggu oleh para penjahat setempat, yang merasa terusik oleh kehadiran pesantren Tebuireng. Sekitar tahun 1900, KH. Abbas datang bersama kakak kandungnya KH. Sholeh Zamzam benda kerep, KH. Abdullah Panguragan dan KH. Syamsuri Wanantara. Berkat kehadiran mereka itu, para penjahat yang dibekingi Belanda tidak berani mengganggu lagi.

Revolusi November dimenangkan oleh lasykar pesantren dengan gemilang, tetapi hal itu tidak membuat mereka terlena. Belanda dengan kelicikannya selalu mencari celah untuk menikam republik ini. Karena itu, KH. Abbas selalu mengikuti perkembangan politik, baik dilapangan maupun di meja perundingan, sementara lasykar masih terus disiagakan. Berbagai latihan terus digelar terutama dari kalangan muda yang baru masuk kelasykaran. Berbagai daerah juga dibuka simpul-simpul kelasykaran yang siap menghadapi kembalinya penjajah.

Di tengah gigihnya perlawanan rakyat terhadap penjajah, misi diplomasi juga dijalankan. Semuanya itu tidak terlepas dari perhatian para ulama. Namun betapa kecewanya para pejuang, termasuk para ulama yang memimpin perang, ketika sikap para diplomat kita sangat lemah, banyak mengalah pada keinginan Belanda dalam Perjanjian Linggarjati tahun 1946. Mendengar hasil perjanjian itu, KH. Abbas sangat terpukul merasa perjuangannya di khianati, akhirnya beliau jatuh sakit. Kyai yang sangat disegani sebagai pemimpin gerilya itu wafat pada hari Ahad waktu subuh, 1 Rabiul Awal 1365 atau 1946 Masehi.

SELAMAT HARI PAHLAWAN 10-11-2012

 

 

Sumber : http://www.facebook.com/notes/mendukung-khabbas-abdul-jamil-sebagai-pahlawan-nasional/mengenang-kh-abbas-komandan-lasykar-andalan/267691134061

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s